Rabu, 22 Januari 2014

Teori Siklus dalam Sosiologi



Pengertian Teori Siklus.
Teori siklus adalah suatu teori perubahan sosial yang merupakan proses seperti gelombang yang naik dan turun. Perubahan sosial dengan model siklus memandang perkembangan secara pesimis. Perubahan bersifat siklus yang selalu berulang seperti perkembangan mahkluk hidup, mulai dari lahir, anak-anak, remaja, dewasa hingga kematian.
Tokoh – Tokoh Teori siklus
1.   IBNU KHALDUN
Biografi
Biografi Singkat Ibnu Khaldun
1. Ibnu Khaldun sejatinya pemikir dan ulama peletak dasar ilmu sosiologi dan politik melalui karya magnum opusnya, al muqaddimah. Ia lahir di Tunisia pada 1 Ramadhan 732 H/ 27 Mei 1332 M dengan namaAbdurrahman bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Al-Hasan bin Jabir bin Muhammad bin Ibarahim bin Abdurrahman bin Khaldun, dan lebih dikenal dengan ibnu khaldun.
2. Penelitiannya tentang sejarah dengan menggunakan metode yang berbeda dari penelitian Ilmuwan pada saat itu juga disebut sebagai bibit dari kemunculan Filsafat Sejarah. Kehidupannya yang malang melintang di Tunisia (Afrika) dan Andalusia, serta hidup dalam dunia politik tak ayal mendukung pemikirannya tentang Politik serta Sosiologi tajam dan mampu memberikan sumbangsih yang besar pada Ilmu Pengetahuan.
3. Adapun karya karya yang dihasilkan oleh Ibnu Khaldun adalah At-Ta’Ariif Bi Ibn Khaldun (sebuah kitab autobiografi, catatan dari kitab sejarahnya), Muqaddimah (pendahuluan atas kitabul al ibar yang bercorak sosio historis, dan filosofis), Lubab Al Muhassal Fi Ushul Ad-Diin (sebuah kitab permasalahan dan pendapat-pendapat teologi) yang merupakan ringkasan dari kitab Muhassal Af-Kaar Al Mutakaddamiin Wa Al Muta‟ Akh Khiriin karya Imam Fakhruddin Ar-Razi.Theory Of Historical Cycle Of Motion (Fase Primitif/Nomaden, Urbanisasi, Kemewahan, Kemunduran)
1. Basis Asumsi Teori
Fenomena sosial masyarakat merupakan wilayah studi yang tidak pernah kering untuk dikaji. Manusia sebagai makhluk multidimensi memiliki kecenderungan eksentris, pencurahan diri keluar. Secara antropologis manusia tidak memiliki struktur tubuh yang mantap atau habitat tertentu sebagaimana hewan. Dengan melakukan pencurahan diri keluar, manusia akan memperoleh identitas dan eksistensinya.
Dalam kitab Muqaddimahnya ia mengkaji “realitas realitas al-„umranal-basyari” atau keadaan kemasyarakatan manusia, yang mana keadaan tersebut dinamakan fenomena-fenomena sosial dan inilah yang merupakan objek pembahasan sosiologi. Ibn Khaldun (1332-1406 M) yang merupakan pioner Islam dalam studi sejarah perkembangan peradaban telah merumuskan konsep perkembangan masyarakat secara dialektis menjadi tiga tahap yaitu tahap masyarakat primitif, tahap kehidupan negara dan tahap kehidupan kota. Sebagaimana perkataannya dalam muqaddimah “Ketahuilah bahwa sejarah adalah catatan tentang masyarakat ummah manusia atau kebudayaan dunia, tentang perubahan perubahan yang terjadi pada watak masyarakat itu, seperti keprimitifan, keramahtamahan, dan solidaritas kelompok. Adapun metode yang ia gunakan dalam mengkaji fenomena fenomena sosial adalah metoda yang ilmiah, karena dalam mengkaji bidang ini (fenomena) sosial ia selalu bertanya “mengapa” dan ia jawab pertanyaan ini dengan ungkapan ungkapan yang dimulai dengan “sebabnya ialah” atau “hal ini terjadi karena”.
2. Pandangan Terhadap Manusia
Menurut Ibnu Khaldun bahwa secara esensial manusia itu bodoh dan menjadi berilmu melalui pencarian ilmu pengetahuan. Alasan yang dikemukakan bahwa manusia adalah bagian dari jenis binatang dan Allah SWT telah membedakannya dengan binatang dengan diberi akal pikiran. Kemampuan manusia untuk berpikir baru dapat dicapai setelah sifat kebinatangannya mencapai kesempuranaan, yaitu dengan melalui proses kemampuan untuk membedakan. Sebelum pada tahap ini manusia sama sekali persis sperti binatang, manusia hanya berupa setetes sperma, segumpal darah, sekerat daging dan masih ditentukan rupa mentalnya. Kemudian Allah memberikan anugerah berupa pendengaran, penglihatan, dan akal. Pada waktu itu manusia adalah materi sepenuhnya karena ia tidak dapat mempunyai ilmu pengetahuan. Dia mencapai kesempurnaan bentuknya melalui ilmu pengetahuan yang dicari melalui organ tubuhnya sendiri. Setelah manusia mencapai eksistensinya, dia siap menerima apa yang dibawa para Nabi dan mengamalkannya demi akhirat.
Setelah itu pikiran dan pandannya dicurahkan pada hakekat kebenaran satu demi satu demi memperhatikan peristiwa peristiwa yang dialaminya yang berguna bagi esensinya. Akhirnya dia menjadi terlatih sehingga pengajaran terhadap gejala hakekat menjadi suatu kebiasaan (malakah) baginya. Ketika itu ilmunya menjadi ilmu yang spesial dan jiwa generasinya yang sedang tumbuh pun tertarik untuk memperoleh ilmu tersebut. Merekapun meminta bantuan para ahli ilmu pengetahuan dan dari sinilah timbul pengajaran. Inilah yang oleh ibnu khaldun dikatakan bahwa ilmu pengetahuan merupakan hal yang alami di dalam peradaban manusia. Adapun tujuan pendidikan menurut Ibnu Khaldun didalam bukunya Muqaddimah tidak merumuskan tujuan pendidikan secara jelas, akan tetapi dari uraian yang tersirat dapat diketahui tujuan yang seharusnya dicapai dalam pendidikan. Dalam hal ini al-Toumy mencoba menganalisa isi muqaddimahnya dan ditemukan beberapa tujuan pendidian yang hendak dicapai.
1. Menyiapkan seorang dari sisi keagamaan untuk menyapampaikan syiar agama.
2. Menyiapkan seseorang dari sisi akhlak agar membentuk kepribadian yang sempura berbudi pekerti luhur dan akhlak mulia.
3. Menyiapkan seseorang dari segi kemasyarakatan sosial
4. Menyiapkan seseorang dari segi vokasional atau pekerjaan.
5. Menyiapkan seseorang dari segi pemikiran sebab dengan pemikiran manusia dapat saling berbagi.
6. Menyiapkan seseorang dari segi kesenian seperti musik, syair, khat, seni bina, dll.

3. Pandangan Terhadap Masyarakat
Konsep kunci yang diajukan Ibn Khaldun untuk memahami proses perubahan masyarakat adalah ashabiah (solidaritas sosial atau kohesi sosial). Solidaritas sosial (ashabiah) ini menyatukan orang untuk meraih tujuan yang sama, juga untuk mengendalikan masyarakat. Ashabiah terbentuk pada awalnya dari pertalian darah. Tetapi ia juga terbentuk dari perserikatan, persekutuan dan kesetian sosial. Tujuan ashabiah pada akhirnya adalah tercapainya kedaulatan (al mulk, otoritas politik). Sebuah kedaulatan dijaga tegaknya oleh ashabiah. Setelah kedaulatan dicapai, ashabiah bisa ditinggalkan, karena kedaulatan politik kemudian menjadi sesuatu yang given bagi masyarakat kemudian.
Kemenangan pada perbenturan antar golongan bergantung solidaritas sosial, ashabiah. Golongan yang ditaklukkan cenderung meniru budaya para penakluk. Masyarakat pengembara, badui dapat mencapai kedaulatan hanya melalui agama. Agama berfungsi untuk menundukkan karakter psikologi badawah (nafsu, irihati, kebrigasan, kekerasan, dsb). Tetapi dakwah keagamaan juga membutuhkan solidaritas sosial untuk berhasil. Puncak kedaulatan, sebagai tujuan solidaritas sosial adalah negara. Negara akan memiliki wilayah luas dan kedaulatan yang kuat jika mendasarkan pada agama. Merupakan watak alami negara memusatkan kekuasaan pada tangan satu orang (golongan), juga merupakan watak alami negara menimbulkan kemewahan dan menumbuhkan sifat menurut dan malas. Pemusatan kekuasaan pada satu tangan dan meratanya kemewahan dan sifat malas merupakan indikasi kehancuran negara.
Negara memiliki umur, sebagaimana manusia. Siklus negara terdiri dari tiga generasi. Generasi pertama hidup dalam badawah yang keras dan jauh dari kemewahan, penuh dengan watak positif pengembara, ashabiah yang menyatukan masyarakat sangat kokoh dan memberi kekuatan dan kesanggupan untuk menguasai bangsa lain. Generasi kedua, generasi ini berhasil meraih kekuasaan dan mendirikan negara, terjadi peralihan dari badawah kepada hadharah (kota). Kemewahan mulai muncul, rasa puas dengan apa yang dimiliki melonggarkan ashabiah. Rasa rendah dan suka menyerah juga mulai tampak.
Generasi ketiga, generasi ini telah lupa pada peringkat hidup nomadik dan hidup kasar. Kemewahan telah merusak, karena besar dalam hidup yang senang dan gampang. Pada generasi ketiga ini negara mulai meluncur turun. Hingga nantinya negara hancur. Kehancuran sebuah negara menjadi titik anjak munculnya negara baru. Negara baru ini tidak dibangun dari nol. Tetapi berdasar pada pencapaian-pencapaian negara sebelumnya (yang telah hilang dari putaran sejarah). Kemudian siklus dimulai kembali. Pola siklus yang sama dengan tingkat peradaban negara yang berbeda-beda. Jadi pola siklus tidak melingkar, namun spiral. 6 prinsip yang menjadi landasan sosiologi
1.  Fenomena sosial mengikuti pola-pola yang sah menurut hukum. Pola tersebut tidak sekaku pola yang berlaku dalam alam fisik namun menunjukkan keteraturan yang cukup untuk dapat dikenali dan dilukiskan. Jelas ini menceriminkan pandangan radikal yang bertolak dari ide bahwa kehidupan sosial mengikuti kemauan abadi dari Allah atau perubahan takdir yang tak dapat diramalkan.
2. Hukum-hukum perubahan itu berlaku pada tingkat kehidupan masyarakat (bukan pada tingkat individual). Karena itu meskipun kehidupan individual bukan merupakan pion dari kekuatan historis yang sangat besar itu, individu itu pun tak mampu melarikan diri dari hambatan-hambatan yang sangat besar itu, individu itu pun tak mampu melarikan diri dari hambatan-hambatan yang ditimpakan atas perilakunya oleh hukum-hukum masyarakat.
3. Hukum-hukum proses sosial harus ditemukan melalui pengumpulan banyak data dan mengamati hubungna antara berbagai variabel. Catatan yang berasal dari masa lalu dan pengamatan di masa sekarang, dapat menyediakan data yang diperlukan. Penekanan terhadap dasar empiris dari pengetahuan sosial ini mencerminkan pangkal tolak khaldun yang khas. Dalam hal ini ia bertolak dari pandangan umum yang lebih rasioanal dan pandangan mistik yang berasal dari abad ke 14.
4. Hukum-hukum sosial yang serupa, berlaku dalam berbagai masyarakat yang serupa strukturnya. Masyarakat dapat dibedakan baik dari segi waktu maupun tempat, namun ditandai oleh hukum-hukum yang serupa karena kesamaan struktur sosialnya.
5. Masyarakat ditandai oleh perubahan. Tingkat perubahan antara masyarakat yang satu dan yang lain mungkin sangat berbeda. Menurut khaldun, di zaman lampau tak banyak perubahan berarti yang terjadi selama jangka panjang. Tetapi di masa hidupnya, seperti yang diamatinya, “seluruh umat manusia telah berubah dan seluruh dunia telah berubah, semua manusia seolah-olah telah menjadi makhluk baru, jelmaan baru, dunia telah melahirkan kehidupan baru”.
6. Khaldun pula memikirkan pula pengaruh lingkungan fisik terhadap perilaku manusia, misalnya memperhatikan pengaruh iklim terhadap penduduk di kawasan tropis dan pengaruh udara dan makanan. Daya dorong sejarah harus dipahami menurut fenomena sosial seperti solidaritas, kepemimpinan, mata pencaharian dan kemakmuran. Perubahan sosial harus dilihat menurut variabel-variabel sosial, yang dengan sendirinya dapat menerangkan perubahan.


4. Bagaimana mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari
Adapun konsep kunci dalam teori ibnu khaldun adalah solidaritas sosial. Menurut hemat kami dalam mengaplikasikan teori ini ke dalam realitas kehidupan sehari-hari dengan membiasakan berempati diri terhadap orang lain dan melatih kepekaan sosial terhadap di lingkungan sekitar. Contoh konkrit ketika pada saat bulan ramadhan kita dianjurkan untuk menyembelih hewan kurban untuk membagikannya kepada orang lain yang kurang mampu atau kepada fakir miskin. Dengan perilaku tersebut tentunya kita menunjukkan rasa solidaritas terhadap orang lain untuk bisa berbagi bersama sebagai bentuk ibadah sosial. Selain itu bisa diterapkan dalam kehidupan realitas sehari-hari dengan menunjukkan rasa sosio-emisional yang terjalin dengan membantu orang yang sedang dalam susah payah misalnya orang yang sedang membutuhkan pertolongan dalam pekerjaan yang dilakoni.Khaldun yang terlahir dari keluarga Arab-Spanyol sejak kecil sudah dekat dengan kehidupan intelektual dan politik. Ayahnya, Muhammad Bin Muhammad seorang mantan perwira militer yang gemar mempelajari ilmu hukum, teologi, dan sastra. Bahkan di usia 17, Khaldun telah menguasai ilmu Islam klasik termasuk ulum, aqliyah (ilmu kefilsafatan, tasawuf, dan metafisika). Tunisia ketika itu merupakan pusat para ulama dan sastrawan yang memungkinkan Ibnu Khaldun muda banyak belajar dari mereka. Selain menggemari dunia pengetahuan, Ibnu Khaldun juga terlibat dalam dunia politik. Ia pernah menjabat Shabib al’Allamah (penyimpan tanda tangan) pada pemerintahan Abu Muhammad ibn Tafrakin di Tunis. Ketika ia menduduki jabatan tersebut usianya baru menginjak 20 tahun. Situasi politik yang tidak menentu membuat Ibnu Khaldun berpindah-pindah pekerjaan. Situasi politik tersebut juga mempengaruhi karir hidupnya. Ketika ia menjabat sebagai sekretaris Kesultanan di Fez maroko, ia menerima tudingan Abu Inan sebagai komplotan politik yang hendak menyerang Sultan. Khaldun akhirnya masuk penjara selama 21 bulan gara-gara tudingan tersebut.
Pada 1375 dia diasingkan di dekat Frenda, Algeria, empat tahun untuk menyelesaikan karya monumentalnya, al-Mukaddimah. Isi pengantarnya Kitab al-Ibar (Sejarah Universal). Pada 1382, di kota suci Mekkah, dia ditawari oleh Sultan kairo untuk menjadi rektor di universitas Islam terkemuka, Universitas Al Azhar, dia juga ditunjuk sebagai hakim (qadi) Syekh Maliki Islam. Pada 1400 dia menemani pengganti sultan ke Damaskus dalam ekspedisi menahan serangan invasi Turki, Tamerlane (Timur Lenk). Ibnu Khaldun menghabiskan beberapa minggu sebagai tamu agung Tamerlene sebelum kembali ke Cairo, di sana ia meninggal pada 17 Maret 1406.
Pemekiran Ibnu Khaldun  melakukan studi penting tentang faktor sosiologi, psikologi, dan faktor ekonomi yang berpengaruh terhadap pembangunan, perkembangan, dan jatuhnya peradaban. Pada abad 14, Ibnu Khaldun menulis sejarah universal yang mengungkapkan secara luar biasa luas mengenai kemampuan pembelajaran dan kemampuan yang tidak biasa dari Ibnu Khaldun yang menyusun teori umum untuk perhitungan perkembangan politik dan sosial selama berabad-abad. Dia adalah seorang sejarawan muslim satu-satunya yang menyarankan alasan sosial dan ekonomi bagi perubahan sejarah, meskipun dibaca dan dikopi pekerjaannya, tetap tak mengahasilkan pengaruh yang efektif hingga mendorong pemikiran Barat yang baru diperkenalkan pada abad 19.
Hampir semua kerangka konsep pemikiran Ibnu Khaldun tertuang dalam al-muqadddimah. Di al-muqaddimah tersebut, Khaldun menerangkan bahwa sejarah adalah catatan tentang masyarakat manusia atau perdaban dunia, tentang perubahan-perubahan yang terjadi, perihal watak manusia, seperti keliaran, keramahtamahan, solidaritas golongan, tentang revolusi, dan pemberontakan-pemberontakan suatu kelompok kepada kepada kelompok lain yang berakibat pada munculnya kerajaan-kerajaan dan negara-negara dengan tingkat yang bermacam-macam, tentang pelbagai kegiatan dan kedudukan orang, baik untuk memenuhi kebutuhan hidup maupun kegiatan mereka dalam ilmu pengetahuan dan industri, serta segala perubahan yang terjadi di masyarakat.
Teori siklus gerak sejarah sebagaimana yang dia pikirkan didasarkan pada adanya kesamaan sebagian masyarakat satu dengan masyarakat yang lain. Teori ini sebenarnya merupakan tafsir atas pemikiran Khladun, Khladun sendiri sebenarnya tidak menyampaikannya secara eksplisit. Satu hal yang disampaikan Khaldun secara eksplisit adalah pemikirannya tentang sejarah kritis. Menurut Khaldun:
"Apabila demikian halnya, maka aturan untuk membedakan kebenaran dari kebatilan yang terdapat dalam informasi sejarah adalah diasarkan kemungkiknan atau ketidakmungkinan...Apabila kita telah melakukan hal demikian, makia kita telah memiliki aturan yang dapat dipergunakan untuk membedakan anatara kebenaran dan kebatilan dan kejujuran dari kebohongan dalam informasi sejarah dengan cara yang logis...selanjutnya apabila kita mendengar tentang suatu peristiwa sejarah yang terjadi dalam peradaban, maka kita harus mengetahui apa yang patut diterima akal dan apa yang merupakan kepalsuan. Hal ini merupakan ukuran yang tepat bagi kita, yang dapat dipergunakan oleh para sejarawan untuk menemukan jalan kejujuran dan kebenaran dalam menukilkan peristiwa sejarah."
Teori Siklus Ibnu Khaldun Mengenai Asal Mula Negara.
Menurut Ibn Khaldun manusia diciptakan sebagai makhluk politik atau sosial, yaitu makhluk yang selalu membutuhkan orang lain dalam mempertahankan kehidupannya, sehingga kehidupannya dengan masyarakat dan organisasi sosial merupakan sebuah keharusan (dharury) (Muqaddimah: 41).
Setelah organisasi masyarakat terbentuk, dan inilah peradaban, maka masyarakat memerlukan seseorang yang dengan pengaruhnya dapat betindak sebagai penengah dan pemisah antara anggota masyarakat. Ia adalah seseorang dari masyarakat itu sendiri, seorang yang berpengaruh kuat atas anggota masyarakat, mempunyai otoritas dan kekuasaan atas mereka sebagai pengendali/ wazi’ (الوازع)
Kebutuhan akan adanya seseorang yang mempunyai otoritas dan bisa mengendalikan ini kemudian meningkat. Didukung dengan rasa kebersamaan yang terbentuk bahwa seorang pemimpin (rais) dalam mengatur dan menjadi penengah tidak dapat bekerja sendiri sehingga membutuhkan tentara yang kuat dan loyal, perdana Menteri, serta pembantu-pembantu yang lain hingga terbentuklah sebuah Dinasti (daulah) atau kerajaan (mulk). (Muqaddimah: 139).
Berdasarkan teorinya ‘ashabiyyah, Ibnu Khaldun membuat teori tentang tahapan timbul tenggelamnya suatu Negara atau sebuah peradaban menjadi lima tahap, yaitu: (Muqaddimah: 175) :
1. Tahap sukses atau tahap konsolidasi, dimana otoritas negara didukung oleh masyarakat (`ashabiyyah) yang berhasil menggulingkan kedaulatan dari dinasti sebelumnya.
2. Tahap tirani, tahap dimana penguasa berbuat sekehendaknya pada rakyatnya. Pada tahap ini, orang yang memimpin negara senang mengumpulkan dan memperbanyak pengikut.
3. Tahap sejahtera, ketika kedaulatan telah dinikmati. Segala perhatian penguasa tercurah pada usaha membangun negara.
4. Tahap kepuasan hati, tentram dan damai. Pada tahap ini, penguasa merasa puas dengan segala sesuatu yang telah dibangun para pendahulunya.
5.  Tahap hidup boros dan berlebihan.

Tahap-tahap itu menurut Ibnu Khaldun memunculkan tiga generasi, yaitu:
1. Generasi Pembangun, yang dengan segala kesederhanaan dan solidaritas yang tulus tunduk dibawah otoritas kekuasaan yang didukungnya.
2. Generasi Penikmat, yakni mereka yang karena diuntungkan secara ekonomi dan politik dalam sistem kekuasaan, menjadi tidak peka lagi terhadap kepentingan bangsa dan negara.
3. Generasi yang tidak lagi memiliki hubungan emosionil dengan negara. Mereka dapat melakukan apa saja yang mereka sukai tanpa mempedulikan nasib negara.
Impian yang tercapai kemudian memunculkan sebuah peradaban baru. Dan kemunculan peradaban baru ini pula biasanya diikuti dengan kemunduran suatu peradaban lain (Muqaddimah: 172). Tahapan-tahapan diatas kemudian terulang lagi, dan begitulah seterusnya hingga teori ini dikenal dengan Teori Siklus.









2. OSWALD SPENGLER

Biografi
Oswald Spengler lahir di Blankenburg (Harz) di Jerman Tengah pada tahun 1880, anak tertua dari empat anak, dan satu-satunya anak laki-laki. Ayahnya, yang semula teknisi pertambangan dan berasal dari garis panjang mineworkers, adalah seorang pejabat di pos Jerman birokrasi, dan ia memimpin keluarganya dengan sederhana namun nyaman di rumah kelas menengah.
Ketika ia berusia sepuluh tahun keluarganya pindah ke kota universitas Halle. Spengler menerima pendidikan Gymnasium klasik, mempelajari bahasa Yunani, Latin, matematika dan ilmu alam. Sini juga ia mengembangkan afinitas kuat untuk seni - khususnya puisi, drama, dan musik. Spengler pada umur 21 tahun. Spengler mempelajari bidang studi budaya klasik, matematika, dan ilmu-ilmu fisik. Pendidikan universitasnya sebagian besar dibiayai oleh sebuah warisan dari almarhum bibi. Ia gagal dalam ujian pertamanya, tetapi ia lulus di ujian kedua pada tahun 1904 dan kemudian ia menulis disertasi sekunder yang diperlukan untuk memenuhi syarat sebagai guru sekolah tinggi. Kemudian ia pindah ke Düsseldorf dan akhirnya se hamburg. Dia mengajar matematika, fisika, sejarah dan sastra jerman. Dia menetap di Munich, di sana untuk menjalani kehidupan sarjana yang independen / filsuf. Dia mulai menulis sebuah buku pengamatan politik. Awalnya untuk menjadi berjudul Konservatif dan Liberal, itu direncanakan sebagai sebuah eksposisi dan penjelasan tentang tren saat ini di Eropa - yang mempercepat perlombaan senjata, Entente "pengepungan" di Jerman, sebuah suksesi krisis internasional, meningkatkan polaritas dari bangsa-bangsa - dan mana mereka memimpin. Namun pada akhir 1911 ia tiba-tiba tersentak oleh gagasan bahwa peristiwa hari hanya dapat ditafsirkan dalam "global" dan "total-budaya" istilah. Dia melihat Eropa sebagai berbaris pergi untuk bunuh diri, langkah pertama menuju kematian terakhir budaya Eropa di dunia dan dalam sejarah.

Pemikiran

Perang Besar 1914-1918 hanya membenarkan dalam pikirannya keabsahan tesis yang sudah dikembangkan. Pekerjaan yang direncanakannya terus meningkat dalam lingkup yang jauh melampaui batas aslinya. Pada tahun 1922 Spengler mengeluarkan edisi revisi jilid pertama yang berisi koreksi kecil dan revisi, dan tahun setelah melihat penampilan jilid kedua, dia kemudian puas dengan pekerjaan, dan semua tulisan-tulisan dan pernyataan-pernyataan.
Dengan memnanfaatkan pendekatan physiogmatic, Spengler yakin akan kemampuannya untuk memecahkan teka-teki sejarah. Berikut ini adalah postulat dasarnya:
1. The "linear" pandangan sejarah harus ditolak, demi siklus. Sebelum ini sejarah, khususnya sejarah Barat, telah dipandang sebagai sebuah "linear" kemajuan dari rendah ke tinggi, seperti anak-anak tangga di tangga - evolusi tak terbatas ke atas. Sejarah Barat dengan demikian dipandang sebagai berkembang secara progresif: Yunani 'Romawi' Medieval 'Renaisans' modern, atau, Kuno 'Medieval' modern. Konsep ini, Spengler bersikeras, hanyalah produk dari ego manusia Barat - seolah-olah segala sesuatu di masa lalu menunjuk kepada anaknya, ada begitu bahwa ia mungkin belum ada sebagai bentuk-lebih disempurnakan.
2. Gerakan siklis sejarah bukan hanya orang-orang bangsa, negara, ras, atau peristiwa, tapi Budaya Tinggi. Sejarah tercatat delapan tersebut memberi kita "budaya tinggi": India, Babilonia, Mesir, Cina, Meksiko (Mayan-Aztec), Arab (atau "Magian"), Klasik (Yunani dan Roma), dan european-Barat.
3. Budaya tinggi "hidup" hal - organik di alam - dan harus melewati tahap-tahap pengembangan kelahiran-pemenuhan-membusuk-kematian. Semua budaya sebelumnya telah melewati tahap yang berbeda ini, dan budaya Barat bisa ada pengecualianBahkan, yang sekarang dalam tahap proses pembangunan organik dapat tepat.Tinggi air pasang dari Tinggi Budaya adalah fase pemenuhan - disebut "budaya" fase.
The Awal kemunduran dan kerusakan dalam Budaya adalah titik transisi antara "budaya" fase dan "peradaban" fase yang mau tidak mau mengikuti. peradaban drastis saksi fase pergolakan sosial, gerakan massa rakyat, perang terus-menerus dan konstan krisis. Semua ini terjadi seiring dengan pertumbuhan yang besar "kota yg besar sekali" - perkotaan dan pinggiran kota besar pusat-pusat yang getah desa-desa sekitarnya vitalitas mereka, kecerdasan, kekuatan, dan jiwaPenduduk perkotaan ini konglomerasi - sekarang sebagian besar rakyat - adalah tak menentu, tidak berjiwa, tak bertuhan, dan materialistis massa. Dari ini datang subhuman "fellaheen" - cocok peserta dalam sekarat-keluar dari suatu budaya. Dengan fase peradaban datang aturan kembarannya Uang dan alat-alat, Demokrasi dan PersUang berkuasa atas kekacauan, dan hanya Uang keuntungan dengan itu. Tapi yang benar pembawa budaya - jiwa-jiwa orang-orang yang masih satu dengan budaya-jiwa - yang muak dan jijik oleh Uang-kekuasaan dan fellaheen, dan bertindak untuk memecahkannya, karena mereka terpaksa untuk melakukannya -- - dan sebagai budaya massa-jiwa akhirnya memaksa akhir kediktatoran uang. Jadi fase peradaban diakhiri dengan Age of Caesarism, di mana kekuatan besar datang ke tangan orang-orang besar, membantu dalam hal ini dengan kekacauan akhir Uang-aturan. Datangnya dari Caesars menandai kembalinya Kewenangan dan Tugas, Kehormatan dan "Darah," dan akhir demokrasi. Dengan tiba yang "imperialistik" panggung peradaban, di mana para Kaisar dengan band-band pengikut pertempuran satu sama lain untuk menguasai bumi. Massa besar tidak mengerti dan tidak peduli; yang megalopoli perlahan-lahan mengurangi penduduk, dan massa berangsur-angsur "kembali ke tanah," untuk menyibukkan diri mereka di sana dengan tanah yang sama-tugas sebagai nenek moyang mereka berabad-abad sebelumnya.
 Kekacauan peristiwa yang terjadi di atas kepala mereka. Sekarang, di tengah semua kekacauan di kali, tiba "kedua religiusitas"; sebuah kerinduan kembali ke simbol lama dari iman budayaDibentengi dengan demikian, massa dalam semacam kepuasan pasrah mengubur jiwa mereka dan usaha mereka ke dalam tanah dari mana mereka dan budaya mereka melompat, dan terhadap latar belakang ini yang sedang sekarat dari Kebudayaan dan peradaban itu diciptakan dimainkan. Setiap Budaya rentang kehidupan-dapat dilihat untuk terakhir sekitar seribu tahun: Klasik ada dari 900 SM hingga 100 AD; Arab (Ibrani-Yahudi Kristen-Islam) dari 100 SM hingga 900 M.; Barat dari 1000 AD sampai 2000 AD . Namun, span ini adalah ideal, dalam arti bahwa seorang laki-laki masa hidup yang ideal adalah 70 tahun, meskipun ia mungkin tidak pernah mencapai usia itu, atau mungkin hidup dengan baik di baliknya. Kematian seorang Budaya mungkin pada kenyataannya akan dimainkan selama ratusan tahun, atau mungkin terjadi seketika karena kekuatan luar - seperti dalam tiba-tiba akhir Budaya Meksiko. Walaupun setiap kebudayaan memiliki Jiwa yang unik dan pada dasarnya khusus dan terpisah, perkembangan siklus kehidupan ini paralel dengan semua dari mereka: Untuk setiap fase dari siklus dalam suatu Budaya, dan untuk semua peristiwa-peristiwa besar yang mempengaruhi para Tentu saja, ada rekan dalam sejarah setiap budaya lain. Dengan demikian, Napoleon, yang mengantar dalam fase peradaban Barat, menemukan rekannya di Alexander dari Makedonia, yang melakukan hal yang sama untuk klasik. Oleh karena itu "contemporaneousness" dari semua budaya tinggi. Dalam beberapa kalimat itu bisa disimpulkan:
Sejarah manusia adalah catatan siklus naik-turun tidak berkaitan Budaya Tinggi. Budaya ini dalam realitas kehidupan super-bentuk, yaitu, mereka organik di alam, dan seperti semua organisme harus melewati fase lahir-hidup-mati. Meskipun terpisah dalam diri mereka, semua pengalaman Cultures Tinggi perkembangan paralel, dan peristiwa-peristiwa dan fase dalam satu menemukan peristiwa dan sesuai fase yang lain. Hal ini mungkin dari sudut pandang abad kedua puluh memungut dari masa lalu makna sejarah siklik, dan dengan demikian meramalkan kejatuhan dan Barat.
Tak perlu dikatakan, teori semacam itu - meskipun agak digembar-gemborkan dalam karya Giambattista Vico dan abad ke-19 Rusia Nikolai Danilevsky, serta dalam Nietzsche - ditakdirkan untuk mengguncang dasar-dasar intelektual dan semi-dunia intelektual Itu sehingga dalam waktu singkat, sebagian karena waktu yang sangat tepat, dan sebagian lagi untuk kecemerlangan (meskipun tidak unflawed) dengan yang disajikan Spengler itu.






3. ARNOLD TOYNBEE

Biografi
Toynbee adalah keponakan dari sejarawan ekonomi. Arnold Toynbee,Lahir di London, Arnold J. dididik di Winchester College dan Balliol College, Oxford. Ia memulai karir mengajar di Balliol College tahun 1912, dan setelah itu memegang posisi di King's College London (sebagai Profesor Modern Sejarah Yunani dan Bizantium), di London School of Economics dan Royal Institute of International Affairs (RIIA) di Chatham rumah. Dia adalah Direktur Studi di RIIA antara 1929 dan 1956. Bekerja untuk Departemen Intelijen Politik dari Kantor Luar Negeri Inggris selama Perang Dunia I dan menjabat sebagai delegasi ke Konferensi Perdamaian Paris pada 1919. Dengan asisten riset, Veronica M. Boulter, yang akan menjadi istri kedua, ia co-editor tahunan RIIA Survey of International Affairs. Toynbee pada tahun 1936 diterima di Reichskanzlei oleh Adolf Hitler. Selama Perang Dunia II, ia kembali bekerja di Kementerian Luar Negeri dan menghadiri pembicaraan damai pasca-perang. Pernikahan pertamanya adalah Rosalind Murray (1890 - 1967), putri dari Gilbert Murray, pada tahun 1913; mereka memiliki tiga anak laki-laki, di antaranya Philip Toynbee adalah yang kedua. Mereka bercerai pada tahun 1946; Boulter Arnold kemudian menikah pada tahun yang sama.

Pemikiran

Toynbee ide-ide dan pendekatan sejarah dapat dikatakan jatuh ke dalam disiplin sejarah Perbandingan. Sementara mereka dapat dibandingkan dengan yang digunakan oleh Oswald Spengler dalam The Decline from west, ia menolak Spengler's deterministik pandangan bahwa peradaban naik dan turun sesuai dengan siklus alamiah dan tak terelakkan. Bagi Toynbee, sebuah peradaban mungkin atau mungkin tidak terus berkembang, tergantung pada tantangan yang dihadapi dan responnya kepada mereka.
Toynbee menyajikan sejarah sebagai kebangkitan dan kejatuhan peradaban, bukan sejarah negara-bangsa atau kelompok etnis. Dia mengidentifikasi peradaban-nya sesuai dengan budaya atau agama daripada kriteria nasional. Dengan demikian, "Peradaban Barat", yang terdiri dari segala bangsa yang telah ada di Eropa Barat sejak runtuhnya Kekaisaran Romawi, diperlakukan secara keseluruhan, dan dibedakan baik dari "Ortodoks" peradaban Rusia dan Balkan, dan dari Yunani-Romawi peradaban yang mendahuluinya. Dengan peradaban sebagai unit diidentifikasi, ia menyajikan sejarah masing-masing dalam hal tantangan-dan-respons. Peradaban muncul sebagai tanggapan terhadap beberapa serangkaian tantangan yang sangat sulit, ketika "minoritas kreatif" diciptakan solusi yang reorientasi seluruh masyarakat. Tantangan dan tanggapan itu fisik, seperti ketika Sumeria mengeksploitasi terselesaikan rawa-rawa bagian selatan Irak dengan menyelenggarakan Neolitikum penduduk menjadi masyarakat yang mampu melaksanakan skala besar proyek-proyek irigasi, atau sosial, seperti ketika Gereja Katolik menyelesaikan kekacauan pasca-Romawi Eropa dengan mendaftar kerajaan Jermanik baru dalam satu komunitas religius. Ketika sebuah peradaban merespons tantangan, ia tumbuh. Peradaban ditolak saat para pemimpin mereka berhenti bereaksi kreatif, dan peradaban kemudian tenggelam karena nasionalisme, militerisme, dan tirani minoritas yang zalim (lihat mimesis). Toynbee berpendapat bahwa "Peradaban mati akibat bunuh diri, bukan oleh pembunuhan." Bagi Toynbee, peradaban tidak berwujud atau tidak dapat diubah mesin tetapi jaringan hubungan sosial dalam perbatasan dan karena itu tunduk pada kedua bijaksana dan tidak bijaksana keputusan yang mereka buat. Dia menyatakan sangat mengagumi Ibn Khaldun dan khususnya Muqaddimah (1377), kata pengantar untuk Ibn Khaldun sejarah universal sendiri, yang mencatat banyak bias sistemik yang mengganggu analisis sejarah melalui bukti-bukti, dan menyajikan teori awal pada siklus Toynbee melihat pada peradaban India mungkin dapat diringkas oleh kutipan berikut. Literatur yang luas, yang megah, kemewahan, ilmu-ilmu yang megah, yang besar harus menyadari, menyentuh jiwa musik, kekaguman inspirasi dewaHal ini sudah menjadi jelas bahwa satu bab yang memiliki awal Barat akan memiliki untuk memiliki India berakhir jika tidak akan berakhir dalam penghancuran diri umat manusia. Pada saat ini amat berbahaya dalam sejarah satu-satunya jalan keselamatan bagi umat manusia adalah cara India.
Ide Toynbee dipromosikan menikmati beberapa mode (ia muncul di sampul Majalah Time pada tahun 1947). Mereka mungkin telah korban awal dari Perang Dingin 's iklim intelektual. Toynbee telah dikritik keras oleh sejarawan lain. Secara umum, kritik telah ditujukan pada penggunaan-nya mitos dan metafora sebagai nilai sebanding data faktual, dan pada tingkat kesehatan dari argumen umum tentang naik dan turunnya peradaban, yang mungkin terlalu banyak mengandalkan pada pandangan agama sebagai kekuatan regeneratifBanyak kritikus mengeluh bahwa kesimpulan yang ia mencapai orang-orang moralis Kristen dan bukan seorang sejarawan. Hugh Trevor-Roper karya Toynbee digambarkan sebagai "Filsafat mish-mash" - Peter Geyl menggambarkan pendekatan ideologis Toynbee sebagai "spekulasi metafisik berpakaian sebagai sejarah. Pekerjaannya, bagaimanapun, telah dipuji sebagai jawaban untuk merangsang kecenderungan yang mengkhususkan penelitian sejarah modern.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar